The Trauma Code: Membuka Tabir Kesenjangan Pelayanan Medis Antara Tingginya Biaya atau Keselamatan Jiwa
The Trauma Code: Membuka Tabir Kesenjangan Pelayanan Medis Antara Tingginya Biaya atau Keselamatan Jiwa
Baek Kang Hyuk, yang diperankan oleh Ju Ji Hoon sebagai dokter Rumah Sakit Universitas Hankuk mengabdi atas rekomendasi menteri Kang menteri kesehatan Korea Selatan. Ia masuk sebagai dokter bedah trauma.
Bersama dua rekannya yakni Yang Jae Won dan Cheon Jang Mi. Mereka memulai aksi heroik menyelamatkan pasien dengan panggilan jiwa seutuhnya. Bedah yang tidak biasa, di atas helikopter dan menggunakan alat bor nir kabel dalam kasus craniotomy. Semula saya ngilu melihat aksinya itu, dokter Baek menghitung waktu terbaik agar pembedahan dilakukan dengan tindakan sigap tanpa menunda.
Sebagai mantan pasien penyintas craniotomy, membayangkannya memegang bor tanpa standar medis jadi deg-degan nggak karuan. Jika saya diposisi sama daruratnya seperti pasien dokter itu.
Sepanjang menonton memang selalu menutup mata, pembedahan itu berjalan dengan analisis yang betul-betul menegangkan. Bagaimana saat mengambil keputusan, serta antar dokter saling berdebat karena dokter Baek tidak menggunakan Standar Kedokteran. Disitulah decak kagum perawat dan sejumlah tenaga medis menghembuskan napas lega, keberhasilan dokter Baek yang terus berhasil menangani pasien kritis. Apa lagi jika tindakan medis harus berada di puncak ketinggian beribu meter.
Satu hal yang perlu kita sadari bahwa penanganan medis tak boleh lambat, terutama mengandalkan teori kadang tak sejalan dengan kenyataan.
Menonton ini memang menguji mental dan nyali. Ada kesenjangan kesehatan yang terkuak dalam dunia medis. Apa lagi, kalau bukan soal biaya operasionalnya dengan jumlah besar dan waktu singkat menyelamatkan jiwa.
Memaksimalkan keselamatan jiwa ternyata pengorbanan yang tak tanggung-tanggung. Adegan dalam drama ini menunjukkan strong why yang kuat mengapa korban ini harus segera diselamatkan.
Meskipun, ada harga yang pantas dibayar mahal. Dokter Baek dalam perannya memegang kendali atas biaya dan jasanya selama ini. Tindakan itu di tunjukkan saat adegan rapat direksi dan manajer anggaran rumah sakit.
Sudah rahasia umum kalau anggaran rumah sakit dipangkas bukan demi keselamatan, tapi demi gaji petinggi dan direksinya. Namun dalam kacamata Baek, bahwa menyembuhkan dan menyelamatkan adalah panggilan kemanusiaan.
Tentu saja, ketulusannya menghalangi pihak rumah sakit yang merasa dirugikan. Disinilah plot twist cerita itu terjadi. Tantangan yang menghambat tujuan Baek penuh dengan pesan motivasi, ia bersi keras mempertaruhkan prinsip itu meski tidak ada pendukung kecuali kedua rekannya.
Bukan tanpa alasan dia tetap teguh, tentu alasan yang melatar belakanginya adalah cinta yang begitu besar ketika kesempatan terbaik tidak memihaknya. Maka kesempatan dan waktu yang ada saat ini, ia gunakan sekuat mungkin dan perasaan-perasaan keluarga pasien menjadi refleksi bagaimana rasanya jika kehilangan orang terkasih tak bisa selamat karena alasan remeh temeh.
Sebagai dokter, jika gagal mengambil tindakan serta salah memperhitungkan waktu adalah penyesalan mendalam, ada luka yang menganga di dada. Waktu tidak bisa di seret ulang dan mengembalikan seperti hal yang sama. Sudah menjadi takdir dokter menyelamatkan jiwa, prinsip yang harusnya dalam dunia medis tidak bisa ditukar dengan kerja bisnis dan ambisi kekuasaan.
Meski tidak bisa dipungkiri bahwa pekerjaan mulia ini bukanlah sesederhana bayangannya. Menyinggung segalanya terbatas dengan ekonomi dan pengobatan yang mahal. Tidak semua kalangan bisa mengaksesnya, isu-isu penting di dunia kesehatan jarang dituntaskan, bahkan perlu menjadi sorotan untuk dikritisi sebatas apa pelayanan kesehatan berkonstribusi layak di semua lapisan masyarakat.
Nyawa untuk menyelamatkan jiwa, butuh kebijakan politik dan otoritas yang memihak ke rakyat. Begitu pesan moral dalam film ini. Dokter Baek dalam akhir pidatonya berpesan agar semua rakyat bergerak menyuarakan agar “menghentikan era kekikiran soal nyawa”. Tentu, panggung kuasa perlu menyadari hal tersebut. Karena dokter terbatas pada kode etik tertentu yang tidak bisa leluasa dalam menindak dan mengeksekusi tanpa kebijakan yang selaras.
Tenaga yang maksimal dalam tindakan jika arah kebijakan tidak sejalan timbullah perlawanan. Dokter Baek hadir pada film membela pasien tanpa kelas-kelas sosial dan menembus batas otoritas kebijakan medis, penuh gairah dalam tindakan dan melawan ketidak adilan sistem.
Kritik sosial yang lumrah ini memang dibuat dramatis dan juga plot twist yang mudah ditebak. Namun, tidak mengurangi isi pesan yang mana harus disampaikan. Adegan-adegan aksi yang gagah, serta profesionalisme sosok dokter tidak gagal dalam peran. Memberi pesan hidup, dinamika yang menarik dan komedi yang berkelas.


Komentar
Posting Komentar