Dokumen Pribadi. Buku Pendidikan Kaum Tertindas
Mengupas Pendidikan dan Penindasan: Refleksi Kebangkitan Filosofis Paulo Freire Pengabdian para guru tidak pernah sepi dari kekosongan ruang publik, akses jalan dan fasilitas yang rusak. Perjalanan ini selalu punya cerita tersirat untuk bangkit lewat pendidikan ditengah penindasan batin. Tonggak peradaban dan sosok peran paling penting dalam mewujudkan karakter dan integritas, tersemat pada guru. Pekerjaan ini sungguh sangat berat, menghadang perjuangan untuk terus menggema meski nyawa menjadi taruhannya. Kisah penderitaan mereka banyak terekam, jejak mereka selalu menyimpan luka dan tanda tanya. Contoh taruhan nyawa guru dan derita lika-liku dalam mendidik terlihat pada sejumlah tenaga pendidik di Merangin, Jambi. Mereka melewati jembatan untuk akses ke sekolah. Sayangnya jembatan itu rusak dimakan usia. Bukan hanya menyebrangi, tapi menggantung berayun-ayun berpasrah kepada angin dan berpegang pada tali, beradu mana yang paling kuat. Pemandangan itu tidak sekali dua kali. Selalu ada dan bahkan tidak berkurang jumlahnya. Lantas pendidikan yang bagaimana untuk merdeka dalam belenggu derita. Potret peta pendidikan di Merangin, Jambi menggambarkan situasi pendidikan tercipta saat ini. Kesenjangan akses pendidikan dan pengabdian guru yang melemahkan perannya. Bukan kah pendidikan harusnya bisa diakses oleh siapapun, di desa dan di kota tak ada bedanya. Tidak ada keberpihakan, sama-sama untuk memanusiakan manusia secara layak. Tujuan pendidikan saat ini, secara tidak langsung terdapat pergulatan tanpa disengaja antara pendidikan borjuis dan kaum tertindas. Penindasan yang kadang bukan dalam bentuk fisik, melainkan mental dan karakter ditengah badai kecanggihan. Situasi yang tergambar seperti pengalaman Paulo Freire. Pendidikan kaum lemah selalu dipikul sepanjang masa, sehingga Freire tidak menyerah. Ia hidup di Brasil dalam jerat ekonomi ke bawah. Satu sisi perut yang tak pernah kenyang, namun dibaliknya ada ribuan pertanyaan yang terus membara. Angka buta huruf dan teknis guru yang mengajar hafalan oriented, menghasilkan insan pendidik tanpa sentuhan kritis dalam berpikir. Ironi pendidikan Brasil muncul ketimpangan, bagi mereka yang tak bisa baca dan tulis tidak berhak memilih. Bentuk penindasan struktural, memang sering terjadi. Kalau diera modern misalnya, anak pejabat mana yang bisa akses kepentingan. Sementara jika tidak punya kolega, harap-harap cemas menunggu kepastian. Freire merenung dan memikirkan cara jitu bagaimana anak miskin bisa mendapatkan pendidikan. Selama itu, tidak ada dialog tuntas karena kesenjangan yang kian terasa dalam kelas sosial masyarakat atas dan bawah. Sehingga didapati untuk dirinya, sebuah radikal berpikir agar bisa mengubah konstruksi sosial masyarakat saat itu. Bagaimana melakukan sebuah revolusi jika tidak punya kekuatan politik? Pendidikan dalam relung tanpa kebebasan adalah projek kepentingan. Banyak dari kaum penindas, juga mereka dari kalangan tertindas. Sehingga penindasan menggerus objek pikir “dunia tanpa perdaban manusia.” Pusat perhatian manusia dalam melakukan aktivitas hidup, terindikasi menjadi siapa yang menguasai dan siapa yang mendebatnya. Kacamata kesenjangan inilah timbul gerakan radikal dari kaum tertindas, serta cara kaum penindas melakukan dehumanisasi melalui sistem pendidikan. Setidaknya terdapat perspektif Paulo Freire untuk memahami konsep pendidikan Kapitalis. Pendidikan sistematik yang dapat diubah oleh kekuatan politik dan projek pendidikan dimana keterlibatan peran kaum tertindas dalam menatanya. Kemungkinan besar perumusan pendidikan kaum tertindas adalah perubahan secara revolusioner. Setidaknya untuk bisa mengubah situasi menjadi humanis dalam berprilaku Freire melakukan beragam cara. 1. Kesadaran dan Beretika Banyak dari kaum penindas tidak memiliki kesadaran perilaku. Kaum penindas menindak kekerasan pada kaum tertindas. Akhirnya mengeksploitasi dan gagal melihat orang lain sebagai manusia. Kesadaran dalam kondisi penindasan ini di nonaktifkan, agar nalar kritis tidak punya kuasa melawan ketidak adilan. Terbukti mental lemah membentuk setiap insan terdidik. Bagi sebagian kalangan pendidikan hanyalah informasi yang diserap, namun diabaikan menjadi karakter yang membentuk pribadi kuat. Tanpa sadar tidak ada batas marjinal dan kehidupan layak melalui status pendidikan. Tinggi rendahnya cara berpikir mempengaruh sikap dan karakter. Oleh sebab itu, jangan sampai pendidikan menjadi alat politik yang disalah gunakan untuk kepentingan siapapun. 2. Pendidikan itu Membebaskan dalam buku pendidikan kaum tertindas terangkum bahwa pendidikan saat ini seperti bank. Maksudnya guru memberikan informasi kepada murid yang seolah-olah murid adalah lembaran yang kosong dan harus diisi seperti gaya bank. Hubungan guru dan murid tidak dianggap setara. Tidak tercipta dialog, sebagai wujud hubungan timbal balik, sehingga sentuhan kritis bagi insan pendidikan kian gersang. Kebebasan untuk bertanya dan menentukan arah mana pandangan hidup, serta teka-teki yang tak terjawab seharusnya muncul sebagai antusias yang tak berkesudahan. Aktivitas berpikir inilah menjadi penting terwujud sebagai standar pendidikan. Disana sekolah yang kita harapkan, generasi yang kita dambakan, lahir bukan sekedar mimpi, tapi mampu menjawab tantangan persoalan kehidupan dalam aksi nyata. 3. Tidak Paham Realitas Penindasan Seharusnya pendidikan membuat seseorang paham kedudukannya sebagai manusia. Freire menekankan bahwa seseorang yang memiliki disiplin ilmu tahu bagaimana cara bersikap, tidak memandang manusia sebagai makhluk rendahan hanya karena mendapatkan kesempatan berbeda. Orang yang memiliki ilmu, peka terhadap isu sosial bagaimana kondisi tertentu menindas mereka dan bertingkah sewenang-wenang terhadap mereka, itulah alasan yang tepat mengapa ilmu itu tidak menjerat atau bahkan memasung seseorang. Pendidikan beriorientasi pada tujuan yang jelas, yakni bertaraf berpikir yang lebih kritis. Bukan hanya menjadi budak yang dikuasai dan menciptakan kelemahan baru dalam kontrol sosial kekuasaan. 4. Fenomena Mentalitas Kaum Terjajah Rasa takut untuk melawan kebodohan menjadi mental yang tertancap. Merasa rendah diri dan tak kuasa untuk menangkis kesimpang siuran menjadi upaya magis bagi siapapun. Pendidikan dalam makna sempit, acap kali salah kaprah pada kemampuan soft skill. Padahal siapapun manusianya pasti punya gagasan serta empati sosial maupun emosional untuk berkonstribusi. Nyatanya itu tidak terwujud. Menurut Freiere Pendidikan semacam itu ibarat petani dan tuan tanahnya. Insan terdidik patuh pada kehendak tuan tananhnya, pendidikan tinggi meski ia adalah seorang petani merasa tak berdaya untuk melawan. Padahal ia diposisi yang benar, meraka merasa tuan tanah memiliki status sosial lebih baik dan tinggi, sementara seorang petani hanyalah buruh kasar yang tak bisa berbuat hal lain kecuali mengikuti perintahnya. Mental itu menguasai diri petani, sehingga bagaimanapun keadaannya mereka tidak mampu mengubah. Patuh dan tunduk pada penindasan seolah alami terjadi. Maka tidak heran jika makna pendidikan seringkali dimaknai sempit. 5. Perspektif yang Keliru Rasa rendah diri yang sudah terlampau jauh telah menyematkan suatu masalah pada diri sendiri. Bahkan siapapun mampu terjebak hanya karena status sosialnya. Akhirnya karena merasa demikian, manusia satu dengan lainnya menciptakan kesenjangan. Bentangan itu yang menjadi alasan sikap pasrah pada diri. Padahal setiap manusia itu sama, dia punya hak dan kebebasan untuk meraih apa yang dikehendaki sesuai kemampuan. Dorongan diri menjadi lemah, tidak ada yang mampu menariknya meskipun sejatinya kekuatan melawan itu ada. Demikian sedikit perspektif ini dalam kacamata yang membangkitkan naluri. Bisa diambil hikmahnya, bahwa pendidikan itu harusnya membebaskan manusia. Tidak ada kepatuhan tanpa alasan untuk memenjarakan raga yang tangguh ini.
|
Komentar
Posting Komentar